Senin, 02 Januari 2017

Biografi Ahli Falak Aceh; Teungku Muhammad Isa Mulieng, Aron. (1927-1997 M)

Teungku Muhammad Isa Mulieng, Aron. (1927-1997 M)




Riwayat Keluarga
        Nama aslinya Muhammad Isa bin teungku Imum Buhan bin Teungku Imum Ibrahim bin Teungku Haji Lemak bin Teungku Haji Penghulu. Menurut berita yang kami terima dari pendahulu kami, salah satunya dari Drs. T. M. Ali Muda (Ahli Falaq dari Medan), beliau mengatakan bahwa Teungku Haji Penghulu berasal dari Gujarat, India. Dia bersama saudara dan temannya merantau ke Aceh untuk berniaga dan berdakwah.
Ibu Teungku Muhammad Isa bernama Teungku Ni Binti Teungku Lebee Muda. Teungku Ni adalah  kakak dari Teungku Hamzah bin Teungku Leubee Muda. Teungku Hamzah ini mengajar ilmu agama di rumahnya sendiri yang nantinya cikal bakal lahirnya Dayah Darul Falah.
Teungku Muhammad Isa diluar Aceh Utara, beliau dikenal dengan Teungku Muhammad Isa Mulieng. Beliau adalah anak bungsu dari sembilan bersaudara.

Tempat Kelahirannya
Teungku Muhammad Isa dilahirkan pada tahun 1927 Masehi di Gampong Meunasah Pulo Kayee Adang Keureutoe (nama waktu dulu) dan sekarang berubah namanya menjadi Gampong Pulo Blang Asan, kecamatan Syamtalira Aron kabupaten Aceh Utara Propinsi Aceh.
Pendidikannya
Sejak kecil beliau sudah menjadi yatim, dididik dan tinggal bersama kakaknya Teungku Safuan binti Teungku Imum Buhan dan didukung oleh keluarganya yang lain. Dengan berkat asuhan serta bimbingan ibu dan semua saudaranya yang lain, beliau dapat menamatkan pendidikan umum pada sekolah Belanda di Simpang Dama Kereutoe tahun 1939 M. Sekarang sekolah ini masuk dalam wilayah Kecamatan Tanah Pasir kabupaten Aceh Utara. Kemudian Beliau melanjutkan pendidikannya pada Pendidikan Islam Bustanul Ma’arif Blang Jruen selesai pada tahun 1943 M.
Karena situasi tidak mengizinkan untuk melanjutkan pendidikannya pada waktu itu karena pergolakan melawan penjajahan Belanda dan Jepang, beliau sempat menganggur beberapa tahun. Dalam masa itu dan juga waktu sebelumnya, beliau bersama gurunya dan masyarakat ikut berjihad dan berperang melawan penjajahan Belanda dan Jepang.
Sebelum beliau keluar kabupaten dalam hal menuntut ilmu, Teungku Muhammad Isa sempat nyantri di Pesantren Cot Trueng Bungkaih Kecamatan Muara Batu - Aceh Utara, pimpinannya waktu itu Teungku Abubakar Ali atau sering dipanggil dengan Teungku Cot Kuta (1896-1971). Beliau disana lebih kurang selama lima tahun.
Pada pertengahan tahun 1956 Masehi, beliau masuk ke Pesantren Ulee Titi Aceh Besar, Banda Aceh, yang pimpinannya waktu itu adalah Teungku Ishak, lebih kurang selama setahun. Disini dia menyempatkan diri untuk mempelajari ilmu Falak dan Ilmu Hisab pada Teungku Syeikh Saman dan Teungku Muhammad Shaleh lambaro, disamping beliau menuntut ilmu-ilmu agama lainnya pada Ulama di sana, diantaranya Teungku Haji Hasan Krueng Kale dan Teungku Haji Ishak Pimpinan Pesantren Ulee Titi.
Pada pertengahan tahun tanggal 18 Mei 1957 M, Teungku Muhammad Isa pindah dari Dayah Ulee Titi ke  Pesantren Darussalam Labuhan Haji, Aceh Selatan untuk mendalami ilmu yang telah dimilikinya. Selama tiga tahun di sana, beliau mempelajari ilmu agama pada gurunya, yaitu Pimpinan Dayah Darussalam Teungku Syeikh Haji Muhammad Wali Al-Khalidy dan beberapa guru yang lain, seperti Teungku H. Abdullah Hanafi Birueun (Abu Tanoh Mirah) yang masa itu dipanggil dengan Tgk. Bireuen dan Teungku H. Abdul ’Aziz Shaleh Jeunieb (Abon Samalanga) yang semasa menyantri disana Abon Aziz dikenal dengan Tgk. Jeunieb.
Di Pesantren Labuhan Haji ini al-marhum di gelar dengan Teungku Muhammad Isa al-Falaky. Kemudian pada pertengahan tahun tepatnya tanggal 6 Juni 1960 M, beliau pindah ke Dayah Thaiyibah Islamiyah Matang Geutoe Idi Cut Aceh Timur selama dua tahun. Pada waktu itu, Pimpinannya bernama Teungku Muhammad Thaib (1887-1967). Selanjutnya pada pertengahan tahun 1962 masehi, beliau pulang dari Dayah Thaiyibah Islamiyah Aceh Timur untuk mendirikan Pesantren di Kampung tempat kelahirannya.

Pengalaman Organisasi
Dalam hal berpolitik dan berorganisasi, menyalurkan aspirasinya untuk memajukan agama, negara dan bangsa, beliau bergabung dalam beberapa organisasi. Diantaranya adalah Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti), sehingga pada tahun 1962 M. dia dipilih dan diangkat menjadi Ketua organisasi ini ranting kecamatan Syamtalira Aron.
Kira-kira enam tahun sebelum beliau meninggal dunia, ia terpilih dan dilantik oleh Pengurus Perti Wilayah Propinsi Aceh sebagai Ketua Persatuan Tabiyah Islamiyah (Perti) Cabang Kab. Aceh Utara, menggantikan Teungku H. Abdullah Hanafi Tanoh Mirah yang berpulang ke-rahmatullah pada tahun 1989 Masehi.
Dalam periode ini pula, beliau memegang jabatan Ketua Majlis Pertimbangan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Cabang Aceh Utara yang sebelumnya adalah hanya sebagai anggota. Selain itu, lebih dari 15 tahun, beliau duduk dalam Anggota Majlis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Aceh Utara, dan pada Majlis Ulama Indonesia Pembantu Bupati Lhoksukon, almarhum sebagai anggota Majlis Dewan Pertimbangan (Anggota Dewan Penasehat).
Selain berkecimpung di beberapa organisasi tersebut, beliau juga termasuk dalam pengurus Pusat Persatuan Dayah Inshafuddin, salah satu organisasi dayah yang ada di Aceh. Oleh karena itu, Dayah Darul Falah yang beliau pimpin adalah satu dayah dari sekian banyak dayah yang bernaung di bawah Persatuan Dayah Inshafuddin dan Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti).

Periode Demi Periode Dayah Darul Falah
Beberapa bulan setelah Teungku Muhammad Isa pulang dari Pesantren Madrasah Thaiyibah Matang Geutoe Idi Cut-Aceh Timur, bersama masyarakat beliau mendirikan satu unit Balai Pengajian (Tempat Belajar). tempat tersebut digunakannya sebagai Mushalla dan tempat belajar ilmu agama bagi para santri dan masyarakat.
Di periode pertama tepatnya pada malam Rabu tanggal 17 Juli 1962 M atau 16 Shafar 1382 H. Teungku Abubakar Ali atau Teungku Cot Kuta yaitu Guru selama beliau belajar di Cot Trueng Bungkaih Aceh Utara, meresmikan dan menepung tawari Balai yang didirikan Teungku Muhammad Isa sebagai Pesantren atau Dayah tempat mempelajari ilmu agama. Sekaligus beliau memberi nama dengan Pesantren Darul Falah.
Hari demi hari, santri dayah ini terus bertambah, baik dari daerah sekitar dayah maupun dari luar daerah aceh utara. Sehingga Teungku Abbas, mertua Teungku Muhammad Isa mengajak para santri dan masyarakat untuk membangun beberapa asrama yang berbentuk panggung yang relevan atau sesuai pada saat itu. Asrama tersebut terbuat dari batang bambu, dinding dan atapnya dari pelepah dan daun rumbia. Kemudian pada periode kedua yaitu tahun 1970-an, asrama dibangun lagi dengan tiangnya dari pohon kayu yang lebih besar dan dindingnya terbuat dari papan.

Alumni-alumninya
Pada masa tersebut, dengan berkat kegigihan dan keikhlasan Teungku Muhammad Isa dan mertuanya Teungku Abbas, Pesantren ini telah banyak berkontribusi pada umat Islam. Melahirkan generasi penerus bangsa, ada yang menjadi ulama dan pimpinan dayah, dan ada juga yang berkerja di unsur pemerintahan pada akhir abad ke XX dan awal abad ke XXI, seperti:
  • Teungku H. M. Kasem TB (1939-2005) Pimpinan ke dua dayah Darul Istiqamah Bireuen.
  • Teungku H. Abdullah Ibrahim Pimpinan Dayah Babul ‘Ulum Tanjong Bungong Ulee Gle sekaligus Ahli Hisab dan Ahli Falak Kab. Pidie.
  • Drs. Teungku H. Mukhtar Wahab Ketua MPU Kabupaten Pidie periode perdana dan kedua tahun 2002-2012.
  • Teungku Hasballah (1942-1995) Matang Teungoh Blang Jruen.
  • Teungku Syamsuddin Abdullah, Abang kandung Teungku Syafari Abdullah Simpang Ulim Aceh Timur, bahkan beliaupun pernah menyantri di Dayah yang dipimpin Tgk. Muhammad Isa ini pada tahun 1960-an.
  • Drs. Teungku H. Ali Alamsyah M.Ag salah seorang Kepala Bidang pada Dinas Syari’at Islam Nanggroe Aceh Darussalam pada permulaan terbentuk Dinas ini (awal tahun 2000).
  • Drs. Ibrahim Bewa MA mantan Kepala Dinas Pendidikan Kab. Aceh Utara , dan ketua MPD Aceh Utara .
  • Drs. H. Ismail Ajie M.Si, mantan Kepala Dinas Pariwisata Kota Lhokseumawe .
  • H. Sulaiman Basan, anggota Polda Nanggroe Aceh Darussalam yang pernah bertugas di Polres Banda Aceh, Polres Aceh Utara dan Sabang .

Pada periode ke tiga tahun 1980-1990-an, asrama santri dibangun semi permanen, yang biayanya dari bantuan swadaya masyarakat, Pemerintah Daerah dan Proyek Vital yang ada di Aceh Utara, sehingga dapat dibangun 19 pintu asrama, satu Mushalla dan sejumlah bangunan lainnya.
Sebagaimana periode sebelumnya sudah ada alumninya yang menjadi cendikiawan, pada masa ketiga ini, juga ada alumninya yang menjadi pimpinan pesantren atau dayah di tempatnya masing-masing, diantaranya seperti:
  • Teungku Darmis Muar, Pimpinan Pesantren Darul Ulum Koto Tangah Padang, Sumatera Barat.
  •  Teungku Dahlan Ismail, Pimpinan Madrasah Tarbiyah Islamiyah Dayah Nurul Falah Gampong Manyang Baroh Blang Asan Kec. Syamtalira Aron Kabupaten Aceh Utara.

Disamping mengajar dan memimpin dayah ini, Teungku Muhammad Isa juga mengajar diluar dayah, seperti di Majlis Ta’lim Pase Timur di Mesjid Baiturrahim Lhoksukon, di Mesjid Keude Karieng Meurah Mulia dan di Mesjid Baiturrahman Alue Ie Puteh, yang pesertanya adalah para Pimpinan Dayah/Pesantren dan Imam Mesjid yang ada di daerah Pembantu Bupati Lhoksukon pada waktu itu.
Selain pada tiga mesjid tersebut, beliau juga memimpin pengajian, zikir dan shamadiah mingguan di Mesjid Baiturrahman Blang Asan Aceh Utara yaitu mesjid kampung beliau sendiri, yang di mulainya pada permulaan tahun 1964 sampai akhir hayatnya.

Pengalaman Falakiyah dan Karyanya
Teungku Muhammad Isa belajar ilmu Falak pada Al-Fadhil Teungku Muhammad Shalih di Madrasah Dayah Siren Lambaro Banda Aceh, Aceh Besar. Ia sebagai guru tetapnya dalam Ilmu Falak dan beliau pula yang memberi Ijazah kepadanya dalam hal ilmu ini. Selain pada Teungku Muhammad Shalih, Teungku Muhammad Isa Mulieng berguru pula pada Al-Mukarram Abu Syaikh Tsaman di Banda Aceh, dengan kitab yang dipelajarinya yaitu Majmu’u Fi ‘Ilmi Al-Falaki karangan Maulana Sayid Syally. Beliau juga sempat belajar ilmu ini pada Abu Hasan Krueng Kale.
Dengan sebab situasi pada waktu itu sangat sederhana, kitab yang beliau pelajari pun sangat sukar didapatkan, bahkan di toko kitab sekali pun, maka Teungku Muhammad Isa harus menulis kitab yang dipelajarinya itu dengan tangannya sendiri. Sehingga kitab karangannya diberi nama dengan Ikhtisharu Al-Falaky.
Isi kandungan kitab tersebut adalah kutipan dari kitab yang beliau pelajari, misalnya Majmu’u fi ‘Ilmi Al-Falaky dan Aizhun Niyam serta sedikit diringkaskan dan juga ditulis di dalamnya catatan penting yang berhubungan dengan Ilmu Falak, ilmu Fiqh dan lainnya. Misalnya hukum perayaan maulid nabi dengan membaca qasidah, Tanya-Jawab dari umat kepada Abuya Syekh H. Muhammad Wali Al-Khalidy dan risalah perdebatan diantara Abuya dengan Teungku Syeikh H. Muhammad Thaib Jeunieb tentang berpuasa dengan hisab atau ru’yah.
Kemudian, dengan kitab Ikhtisharu Al-Falaky itulah Teungku Muhammad Isa mengajarkan kepada santri-santri yang belajar ilmu ini di lembaga yang dipimpinnya sendiri yaitu Dayah Darul Falah dan di tempat-tempat lain.
Karya tangannya yang lain yaitu ‘Jadwal Waktu Sembahyang untuk selama-lamanya’ yang sampai sekarang di sebagian tempat masih digunakan oleh umat untuk mengetahui awal masuk waktu shalat.
Keahlian dan kegemaran beliau dalam ilmu ini didukung oleh pamannya yang bernama Teungku Imum Kasem yang semasa hidupnya pun banyak masyarakat yang bertanya padanya tentang kapan mulai puasa, waktu turun ke sawah, pasang-surut, dan lain yang berhubungan dengan perjalanan matahari dan bulan.

Akhir Hayatnya
    Selama lebih kurang 35 tahun memimpin Pesantren Darul Falah pada tanggal 23 Ramadhan 1417 H atau 31 Januari 1997 M, beliau berpulang kerahmatullah di rumah kediamannya, yaitu rumah tempat Teungku Hamzah bin Teungku Leubee Muda mengajar pendidikan agama kepada umat. Setelah santri dayahnya dan warga masyarakat muslim setempat melaksanakan shalat tarawih, yaitu tepatnya pada malam Sabtu pukul 21:50 WIB, Teungku Muhammad Isa meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya. Beliau menderita penyakit tumor ganas yang beberapa bulan sebelum bulan Ramadhan tahun tersebut sudah sembuh dan pada permulaan puasa tahun itu juga, penyakit itu kambuh kembali.





 Post by Murdani Abdul Wahab

Minggu, 18 Desember 2016

BENCANA AKHIR ZAMAN


Ya Allah...kira2 60 tahun lgi 
Allahu Akbar...!
dari yg di sabdakan Rasulullah Muhammad SAW...
UMUR UMAT ISLAM TIDAK SAMPAI 1500 H
SEKARANG SUDAH 1437 H (2016 Masehi)
BERAPA TAHUN LAGI? 
Kita tidak tahu hakikat kiamat yang sesungguhnya, bahkan Rasul sendiri tidak dikasih tahu oleh Allah, cuma melalui tanda-tanda kiamatnya saja.
Tdk terasa kita hidup dipenghujung Jaman Jababira.  Kata Rasul Jaman itu dibagi 5:
  1.  Zaman Nubuwwah (Zaman kenabian diawali dr Zaman Nabi Adam AS sampai Baginda Nabi Muhammad SAW)
  2. Zaman Khilafah Pertama (dipimpin sahabat -sahabat Nabi Abu Bakar Umar, Utsman dan Ali radhiallahu anhum)
  3. Zaman Al-mulk -kerajaan- (contoh dapat kita ketahui berakhir runtuhnya Dinasti Utsmani diturki, kalau di Indonesia Kerajaan Aceh, Majapahit, Sriwijaya,  dsbnya).
  4. Zaman Jababira yaitu: #(Zaman kebebasan maksiat dimana-mana dan kita hidup di Zaman ini). # Fitnah2 bertebaran untuk melemahkan kaum Muslimin (era fitnah terbesar akan terjadi saat Dajjal muncul). # Org2 yg tdk cakap/Zalim menjadi penguasa (pemimpin), # Jumlah ummat Islam banyak ttp bagaikan buih diatas laut (sedikit yg berjihad untuk membela Islam)... -->Jaman ini sudah terjadi dan sdg kita jalani...
  5.  Zaman Khilafah ll (Zaman yg mana suasana seperi pada Zaman Rasuluallah nanti umat Islam akan dipimpin Imam Mahdi. Pd Zaman ini pula Dajjal muncul, Nabi Isa as jg muncul ditugaskan untuk membunuh Dajjal dan meng-Islamkan orang2 Kafir/Nashara).
Para Ulama hadits memprediksi ttg usia umur ummat Islam :
  1. *Ibnu Hajar Asqalani* seorang ulama pakar hadits, kitab beliau yg populer diindonesia adalah *Fathul Barri* Beliau berkata umur umat Islam sampai 1476 H
  2. *Imam As-syuyuthi* Beliau mengatakan umur umat Islam sampai 1477 H
  3. *Ibnu Hajar Hambali* kata Beliau umur umat Islam lebih dari 1400 H namun tdk sampai 1500 H
skrg umur umat Islam sudah sampai pd 1437 H
Hari kiamat tdk ada yg tau termasuk Rasulullah namun mengenai umur umat Islam, Rasulullah sdh memberi bocoran tdk sampai 1500 H.
Kelak diakhir jaman Allah SWT akan wafatkan serentak umat islam dimuka bumi dan yg tersisa hanyalah orang kafir yg akan menyaksikan hancurnya bumi gunung laut langit dan seluruh alam (baca Al-Qariah, Al-Qiyamah, Al-Waqiah)
Diantara tanda kiamat kata Rasulullah SAW akan muncul *Dukhan* (kabut hitam) yg menyelimuti bumi selama 40 hari 40 malam lalu sahabat bertanya Ya Rasulullah kapan itu terjadi??? Kata Baginda Nabi SAW itu terjadi apabila yg pertama KALAU PENYANYI WANITA BERMUNCULAN DIMANA-MANA . Yg kedua kata Rasulullah SAW, kalau alat yg melalaikan (musik) dicintai oleh umatku dan minuman keras dimana-mana....
Saudaraku, tanda2 diatas sudah muncul semua sekarang.......... .
Mumpung masih ada waktu, mari segera benahi diri, perbaiki kualitas ibadah dan perbanyak amal sholih untuk bekal di akhirat nanti.... 
Wallahu'alam....
Sudahkah Siapkah...
Note:
*Kajian ilmiah seluruh Pakar Iptek di timur dan barat* sdh 100% membenarkan Peringatan Rasulullah 14 abad yg lalu...! dan janji Allah pasti benar dan tepat...!
*BADAN Meteorologi dan Geofisika* menyatakan bahwa akan terjadi kemarau panjang yang akan melanda dunia. Diperkirakan kemarau panjang tersebut akan dimulai tahun 2019 hingga 2022. Cadangan air dunia saat ini hanya tersisa 3% saja. Lalu apa artinya informasi ini bagi kita?
Artinya adalah *keluarnya Dajjal telah sangat dekat*. Dan *munculnya Imam Mahdi* telah berada di tengah-tengah kita, tanpa kita sadari. Ini berarti apa yang disabdakan Rasulullah telah terbukti.
Dalam hadits tentang kisah Tamim Ad-Dari, keluarnya Dajjal di tandai dengan keringnya danau Thabariyyah (Tiberias), keringnya mata air Zughar, dan pohon kurma Baisan tidak berbuah lagi. Dan jika kita mengikuti perkembangan informasi terakhir tentang tiga pertanda tersebut, sudah nyata terjadi.
Sudah dua tahun ini, pohon kurma di Baisan tidak berbuah lagi. Diikuti dengan semakin minusnya mata air Zughar. Dan yang paling mencengangkan adalah surutnya air di danau Tiberias di Israel sudah sangat mengkhawatirkan. Sehingga pemerintah Israel sibuk mencari sumber air lain. Salah satunya perencanaan penyulingan air laut.
Dalam hadits lain dikatakan bahwa Dajjal akan keluar dari sarangnya ditandai setelah terjadi kemarau dan kekeringan selama kurun 3 tahun. Dan sebagaimana disebutkan di atas, bahwa Badan Meteorologi dan Geofisika telah memperkirakan kekeringan panjang akan dimulai tahun 2019 hingga 2022.
Jika di antara kita ada yang pernah berhaji dari tahun 2011, 2012, 2013, 2014, maka insya Allah pernah berjumpa dengan “calon Imam Mahdi” di dekat Ka’bah. Dan hanya orang-orang khusus saja yang mengetahui tanda tandanya. Dan kemunculan Imam Mahdi ini seperti yang pernah di nubuwahkan oleh Rasulullah adalah ditandai wafatnya Raja yang namanya bermakna nama hewan.
Bisa jadi ia adalah Raja Fahd (Fahd: singa). Setelah itu terjadi perselisihan. Dan naik tahta raja yang banyak dosa, kemudian meninggal, kemudian muncul raja yang baik. (Bisa jadi ia adalah Raja Salman). Wallahu a’lam.
Di masa atau setelah masa pemerintahan Raja Salman inilah terjadinya pembai’atan atas Imam Mahdi.
Dari pertanda ayat-ayat qauniyah tersebut, kesimpulannya adalah akhir dari fananya dunia ini sudah demikian dekat.
Marilah kita berbuat baik semaksimal mungkin, dan ajaklah setiap berjumpa dimanapun untuk semakin bersungguh sungguh memperbanyak amal akhirat. 
Silahkan nonton video ini: https://www.youtube.com/watch?v=F3cDUDkoiwM

Sabtu, 17 Desember 2016

SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU FALAK

SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU FALAK

Posted by Murdani, diambil dari buku "Sejarah Perkembangan dan Biografi Astronomi Islam" karangan Teungku Mustafa Isa dan Murdani Abdul Wahab.
A.           Dasar dan Pakar Pertama Ilmu Falak
Ilmu falak, merupakan ilmu yang sudah tua, yang dikenal oleh manusia, bangsa-bangsa Mesir, Mesopotamia, Babilonia dan Tiongkok, sejak abad ke-20 sebelum masehi telah mengenal dan mempelajari ilmu falak ini. yang dikenal dengan ilmu perbintangan.
Ilmu falak merupakan salah satu cabang ilmu yang berkembang diatas permukaan jagat raya ini dari masa silam sampai sekarang, bahkan dimasa yang akan datang. Ilmu ini terus berkembang serta lebih mudah lagi cara mempelajari dan menghitungnya, dibandingkan dengan masa yang lalu, karena alat yang dipergunakannya lebih canggih dan modern.
Secara garis besar, ilmu Falak secara ilmiah disebut dengan ilmu Astronomi yang dibagi dalam dua periode.[1]
a)      Masa sebelum Nabi Muhammad Shalallahu `alaihi wa sallam, dan para ahli ilmu ini disebut dengan ‘Ulama Mutaqaddimin.
b)      Masa sesudah Nabi Muhammad Shalallahu `alaihi wa sallam, dan para ahlinya disebut dengan ‘Ulama Mutaakhirin yang diperiodesasikan dalam dua masa, yaitu ilmu Falak pada masa peradaban Islam dan ilmu Falak pada masa Peradaban Eropa.
Dasar ilmu ini adalah dari nabi Idris Alaihissalam. Masa inilah disebut ‘Ulama Mutaqaddimin. Allah Ta’ala memberikan-Nya sebagai Mukjizat untuk menandingi para penyihir pada waktu itu. Beliaulah pencetus pertama ilmu ini, dan kemudian dilanjutkan oleh anaknya yang bernama Istharib.[2]
Kemudian dilanjutkan oleh bangsa Sumeria sekitar tahun 4500 Sebelum Masehi. Sesudah mereka, diteruskan oleh bangsa Babilonia (Iraq Selatan), Numa Pompilus[3] dan Aristoteles (384-322 SM). Kemudian sekitar abad ke-12 SM, di negeri Tiongkok, ilmu falak telah banyak mengalami kemajuan-kemajuan. mereka telah mampu menghitung kapan akan terjadinya gerhana, serta menghitung peredaan bintang-bintang.
Sekitar abad ke-4 SM, di negeri Yunani yang sementara berada di zaman keemasannya ilmu pengetahuan, ilmu falak telah mendapat kedudukan yang sangat penting dan luas. Hingga abab ke-2 Masehi, muncul seorang ahli bintang di Iskandaria (Mesir) keturunan bangsa Yunani yaitu Claudius Ptolomeaus (90-168 Masehi).
Mereka berpendapat, bahwa bumi ini tetap tidak bergerak, sedangkan matahari, bulan dan semua planet beredar mengelilingi bumi.[4]
B.            Astronom Masa Peradaban Islam
Pada masa kejayaan Islam yaitu masa Bani Abbasiyah, ilmu Falak semakin berkembang. Masa inilah disebut dengan ‘Ulama Mutaakhirin. Banyak para ahli astronomi Islam pada saat itu, yang diantaranya:
-       Muhammad bin Ibrahim Al Farazi (wafat 796 M)
-       Abu Ja’far Muhammad bin Musa Al Khawarizmi (780 - 847 M)
-       Abu Masyar Al Falaki (w. 885 M)
-       Abu Bakar Al Hasan bin Al Hasib (w. 893 M)
-       Ibnu Jabr Al Battani (858-929 M)
-       Maslamah Abu Qasim Al Majriti (905-1007 M)
-       Ali bin Yunus (w. 1009 M)
-       Abdurrahman Al Biruni (w. 1048 M)
-       Ibrahim bin Az Zarqali (1029-1089 M)
-       Nashiruddin Al Thusi (1201-1274 M)
-       Ulugh Bek (w. 1420 M)
Semua ahli astronomi Islam yang telah tersebut diatas, mereka berpendapat bahwa bumi ini tetap dan semua benda-benda langit, matahari, bulan, bintang dan planet-planet lainnya beredar mengelilingi bumi, sama dengan pendapat yang telah dikemukakan oleh Aristoteles dan Claudius Ptolomeaus.[5]
C.            Astronom Masa Peradaban Eropa
Setelah delapan abad Islam jaya dengan perkembangan ilmu falaknya, pusat perkembangan ilmu ini mulai mundur dan beralih ke Eropa dengan diterjemahkannya buku atau kitab ilmu falak yang ditulis orang muslim ke dalam bahasa Eropa.
Hingga sekarang umat Islam sangat jauh tertinggal dan jarang kita dapati ahlinya yang benar-benar memahami ilmu astronomi ini, dibandingkan dengan para astronom Eropa.
Salah satu penyebab mundurnya ummat Islam dalam ilmu ini adalah karena pemeluknya tidak mau mempelajari dan mengkaji lebih dalam ilmu ini, ditambah lagi dengan dibakarnya perpustakaan Islam, dan tidak sedikit pula buku dan kitab-kitab yang ditulis oleh para ilmuan Islam disembunyikan oleh orang yang non Islam dan bangsa Eropa, termasuk karangan-karangan yang telah disusun oleh para Ulama dan pakar-pakar Falaky Islam yang telah kami sebutkan di atas.
Masa keemasan ilmu astronomi pada zaman ini, dimulai dengan diterjemahkan buku dan kitab-kitab ilmu Falak berbahasa Arab yang dikarang oleh pakar Islam ke dalam berbagai bahasa di Eropa saat itu, di antaranya yaitu kitab “Al-Mukhtashar fi Hisabil Jabr wal Muqabalah” dan kitab “Suratul Aradl” kedua kitab ini adalah karya Al-Khawarizmi.
Karya Abu Ma’syar yang bernama “Al-Madkhalul Kabir” diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh John dari Seville dan Gerard dari Cremona. Selain itu, tabel bintang-bintang karya Al-Zarqali diterjemahkan oleh Ramond dari Marsceilles. “Tabril Al-Maghesti” karangan Al-Battani diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Plato dan ke dalam bahasa Inggris oleh Alphonson X.[6]
Sehingga muncul para ahli astronomi seperti:
-       Nicolas Copernicus (1473 – 1543 M) dari Polandia
-       Galileo Galilei (1564 – 1642 M), dan
-       Johannes Kepler (1571 – 1630 M) dari Jerman
Mereka berpendapat bahwa bumi ini berputar mengelilingi matahari yang dikenal dengan Heliosentris. Sedangkan pendapat yang mengatakan matahari mengelilingi bumi adalah dinamakan dengan Geosentris. Nicolas Copernicus mengarang satu buku yang bernama “Revolutionibus Orbium Celestium”, dalam buku ini dia mengemukakan bahwa peredaran semua benda-benda langit pada manzilahnya masing-masing.
Ilmu Falak secara historis sudah begitu populer sejak zaman klasik, bahkan dalam sejarah Islam pakar-pakar Ilmu Falak lebih unggul berbanding pakar ilmu Falak dari Barat. Al-Khawarizmi seorang Astronom Muslim mampu menghasilkan kelender untuk lima ribu tahun ke depan, sedangkan para Astronom Barat hanya mampu menghasilkan kelender dalam jangka lima ratus tahun ke depan.
Keunggulan Astronom Muslim tersebut diakui oleh pihak Barat, karena memang bangsa Barat berhutang budi dengan orang-orang Islam, lebih-lebih dengan pusat peradaban Muslim di Bagdad. Akan tetapi perkembangan Ilmu Falak pada masa sekarang dikalangan ummat Islam sangat mundur dan para ahlinya pun sangat sedikit, karena sebagian mereka menganggap bahwa belajar dan mempelajari ilmu ini hukumnya tidak dibolehkan oleh syara'.
D.           Ahli Ilmu Falak di Nusantara
Di zaman sekarang ilmu Falak sudah menjadi satu disiplin ilmu yang berdiri sendiri dan semakin maju serta dijadikan sebagai salah satu mata pelajaran wajib pada sebagian lembaga pendidikan. Adapun perkembangannya di Nusantara ini dan di seluruh tanah Melayu (Asean) dari sekian lama ilmu ini sudah masuk ke lembaga pendidikan, baik pendidikan agama Islam ataupun umum seperti Fakultas Syari'ah pada Sekolah Tinggi Agama Islam dan IAIN baik negeri maupun swasta, yang dijadikannya sebagai mata kuliah wajib, perkembangannya sangat mundur dibandingkan dengan diluar negeri. Sedangkan lembaga pendidikan Islam yang lain misalnya Pesantren/Dayah ilmu ini tidak dimasukkan sebagai mata pelajaran wajib, kecuali pada beberapa pesantren/dayah tertentu saja.
Disiplin ilmu Falak di Indonesia berdasarkan tingkat keakurasian dapat diklasifikasikan ke dalam lima sistem hisab, yaitu meliputi :
a)      sistim Hisab 'Urufi,
b)      sistim Hisab Taqribi,
c)      sistem Hisab Haqiqi Taqribi,
d)     sistim Hisab Haqiqi Tahqi, dan
e)      sistim Hisab Haqiqi Kontemporer (moderen).
Urutan klasifikasi di atas menunjukkan tingkat kesempurnaan dan keakurasian data perhitungan dalam Ilmu Falak (Hisab).
Sistem hisab ini dibedakan berdasarkan metode dan sistim yang digunakan berkaitan dengan tingkat ketelitian dan hasil perhitungan yang diperoleh.
a)      Hisab 'Urfi adalah hisab yang melandasi perhitungannya dengan kaidah-kaidah sederhana. Pada sistem hisab ini perhitungan bulan qamariyah ditentukan berdasarkan umur rata-rata bulan sehingga dalam setahun qamariyah umur dibuat bervariasi 29 dan 30 hari. Bulan bernomor ganjil yaitu mulai Muharram berjumlah 30 hari dan bulan bernomor genap yaitu mulai Shafar berumur 29 hari. Tetapi khusus bulan Zulhijjah pada tahun kabisat qamariyah berumur 30 hari. Oleh sebab itulah maka hisab ini tidak bisa dijadikan acuan untuk penentuan awal bulan yang berkaitan dengan ibadah misalnya Ramadhan, Syawwal dan Zulhijjah.
b)      Hisab Taqribi adalah sistem hisab dengan menggunakan kaidah-kaidah astronomis dan matematik, namun masih menggunakan rumus-rumus sederhana, sehingga hasilnya kurang teliti. Sistem hisab ini merupakan warisan para ilmuwan falak Islam masa lalu dan hingga sekarang masih menjadi acuan hisab di banyak pesantren di Indonesia, bahkan sistim haqiqi yang berkembang sekarang didasarkan dan berpedoman pada tiori taqribi ini. 
Hasil hisab taqribi akan sangat mudah dikenali saat penentuan ijtima’ dan tinggi hilal menjelang 1 Ramadhan, Syawwal dan Zulhijjah yaitu terlihatnya selisih yang cukup besar terhadap hitungan astronomis modern. Beberapa kitab falak yang berkembang di Indonesia yang masuk dalam kategori Hisab Taqribi misalnya; Sullamu al Nayyirain, Ittifaq Dzatil Bainy,  Al Qawaid al Falakiyah dsb.
c)      Hisab Haqiqi Taqribi adalah sistim hisab yang menggunakan kaidah-kaidah astronomis dan matematik serta menggunakan rumus-rumus terbaru yang dilengkapi dengan data-data astronomis terbaru pula sehingga memiliki tingkat ketelitian yang tinggi. Sedikit kelemahan dari sistim hisab ini adalah pengunaan kalkulator yang mengakibatkan hasil hisab kurang sempurna, karena banyak bilangan yang terpotong akibat didgit kalkulator yang terbatas. Beberapa sistem hisab haqiqi taqribi yang berkembang di Indonesia diantaranya: Hisab Hakiki, Tadzkirah al Ikhwan, Badi’ah al Mitsal dan Menara Kudus, Al Manahij al Hamidiyah, Al Khulashah al Wafiyah, dan sebagainya.
d)     Hisab Haqiqi Tahqiqi sebenarnya hisab ini merupakan pengembangan dari sistim hisab haqiqi taqribi, tetapi hisab ini memiliki tingkat akursi yang sangat tinggi sehingga mencapai derajat "pasti". Tiori ini merupakan kemajuan bagi perkembangan sisitim hisab di Indonesia. Sebab hisab ini sudah dilakukan perhitungan dengan menggunakan komputer yang siap pakai. Diantara sistim hisab tersebut misalnya : Al-Falakiyah, Nurul Anwar dan lain-lain.
e)      Hisab Haqiqi Kontemporer yaitu sistim hisab yang mengunakan alat bantu komputer yang canggih serta mengunakan rumus-rumus yang lebih akurat dari sistim hisab sebelumnya, rumus ini dikenal dengan istilah algoritma serta beberapa diantaranya sudah dibuat dalam bentuk software (program) yang lebih siap pakai dari sistim hisab haqiqi taqribi. Tiori ini seperti  Jean Meeus, New Comb, Brown, Almanac Nautica, Astronomical Almanac, Mawaqit, Ascript, Astro Info dan sebagainya.
Tiori ini merupakan kemajuan bagi perkembangan sistem hisab di Indonesia. Sebab sistem hisab ini ternyata sudah melakukan perhitungan menggunakan kalkulator, komputer serta beberapa diantaranya sudah dibuat dalam bentuk software (program) komputer yang siap pakai.
Para pakar falak dan astronomi selalu berusaha menyempurnakan rumus-rumus untuk menghitung posisi benda-benda langit hingga pada tingkat ketelitian yang pasti. Hal ini tentunya hanya bisa dibuktikan dan diuji saat terjadinya peristiwa-peristiwa astronomis seperti terbit matahari, terbenam matahari, terbit bulan, terbenam bulan, gerhana matahari, gerhana bulan,  posisi bintang dan peristiwa astronomis yang lain.
Penentuan arah qiblat, waktu shalat dan awal bulan konon lagi bulan Ramadhan, Syawal dan Zulhijjah yang masing-masing untuk menentukan mulai puasa dan berhari raya serta penentuan tarikh yang disebut juga dengan penanggalan, semua ini adalah pekerjaan besar yang menjadi kewajiban bagi ummat Islam untuk menyelesaikannya. Keberadaan ummat Islam yang tersebar di seluruh penjuru dunia, mengakibatkan posisi arah qiblat, waktu shalat serta awal bulan dan gerhana selalu berbeda, karena berbeda tempat dan dasar-dasar perhitungannya. Dalam permasalahan tersebut, keberadaan Ilmu Falak dan Ilmu Hisab sangat menentukan. Maka usaha untuk mempelajari dan mengembangkannya juga sama penting dengan fungsi yang telah diberikan itu.
Hal ini menjadi tantangan bagi lembaga pendidikan ini untuk melahirkan kader dan anak didiknya yang memiliki pengetahuan tentang Ilmu Falak. Para pengurus lembaga pendidikan dan instansi atau lembaga terkait lainnya adalah ujung tombak untuk pengembangan ilmu ini dan menjadi tanggung jawab supaya mengetahui dan mengembangkannya kepada generasi penerus, baik dalam hal penyusunan kurikulum, penggunaan metode belajar, kualitas pengajar dan persediaan bahan-bahan bacaan serta fasilitas lainnya yang lengkap. Dengan kata lain, mereka berkewajiban menyediakan sarana dan prasarana untuk proses pembelajaran Ilmu Falak tersebut dan mengembangkannya.
Di Nusantara ini banyak para ahli Falak, sejak masa penjajahan Belanda sampai sekarang, diantaranya[7]:
v  Dari Aceh :
Jika kita tinjau dari segi perkembangan ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh para ulama pada masa awal penyiaran agama Islam, Ilmu Falak masuk ke Nusantara ini bersamaan dengan masuknya agama Islam ke negeri ini yaitu dari Aceh, karena Aceh merupakan daerah pertama masuk Islam ke Nusantara, kemudian baru berkembang keseluruh tanah air misalnya Jawa, Sulawesi, Kalimantan dan lain-lain. Begitu juga halnya dengan Ilmu Falak. Berikut beberapa pakar Falakiyah Aceh saat itu:
1.    Syaikh Abbas ( 1456 – 1477)
2.    Syaikh H. Muhammad Hasan Krueng Kale (1886-1973
3.    Abu Syaikh Tsaman Mesjid Raya Banda Aceh
4.    Teungku Muhammad Shalih Lambaro Banda Aceh
5.    Tuanku Abdullah Meulaboh (1950 M)
6.    Teungku H Hasan Samalanga
7.    Teungku H. Usman Makam Geurugok (1909-1993)
8.    Teungku Muhammad Ali Arsyad, Teupin Raya Pidie (1921-2003 M)
9.    Teungku Muhammad Isa Mulieng, Aron. (1927-1997 M)
10.   Teungku Hasyem Bardan Lampoh Tuah Grong-grong
11.    Teungku Muhammad Yusuf Padang Tiji, Pidie
12.     Teungku Muhammad Basyah Hasypi, Bireuen (1939-1987 M)
v  Dari Medan, Sumatera Utara:
1.    Drs. T. M. Ali Muda (1942 – 2005)
2.    Ust Arifin Isa
3.    Dr. Lahmuddin Nasution, M.Ag
4.     Drs. Abdul Halim
v  Dari pulau Jawa:
1.    Syaikh Abdurrahman Al Misri (1896 M)
2.    Syaikh Usman bin Abdullah bin Aqil Betawi (abad ke 19 M)
3.    Muhammad Manshur bin Abdul Hamid bin Muhammad Darimi Al batawy, Jakarta 1925 M)
4.    Zubair Umar Al jailani, Kelahiran Bojonegoro dan menetap di Salatiga
5.    Syekh Muhammad Muhadjirin Amsar Ad-Dary
6.    K.H. Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah, Yogyakarta, w. 1923)
7.     K.H. Ahmad Badawi (Yogyakarta, w. 1969)
8.    Saaduddin Jambek, Kelahiran Padang dan menetap di Jakarta 
9.    H. Abdur Rachim ( Panarukan, 3 Februari 1935)
10.  Muhyiddin Khazin (Salatiga, 19 Agustus 1956)
11.  Thomas Djamaluddin (Purwokerto, 23 Januari 1962)
v  Dari pulau Kalimantan:
1.    Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari  (Lahir di Martapura, 15 Shafar 1122 H/19 Maret 1710 M)
Buku-buku karangan Zubair Umar Al jailani dan Saaduddin Jambek menjadi pegangan dan rujukan para ahli hisab dan ahli falak sesudahnya yang ada di negeri ini. Bahkan karangan keduanya dijadikan dasar untuk membuat rumus-rumus ilmu falak yang dikembangkan melalui calculator, Casio Personal Computer dan Laptop.



[1]     Tgk. Muhammad Isa Mulieng, Al-Ikhtsharu Al-Falaky, (Darussalam: Labuhan Haji, 1957 M/1377 H.)  hal. 15.
[2]     Lihat Kitab Taju al-Muluk.
[3]     Bangsa Numa Pompilus hidup pada masa berdirinya kerajaan Roma, yaitu sekitar tahun 753 Sebelum Masehi.
[4]     Muhyiddin Khazin, Ilmu Falak Dalam Tiori dan Praktek, (Yokyakarta: Buana Pustaka, 2004), hal. 24.
[5]     Muhyiddin Khazin, Ilmu Falak ................ hal. 24.
[6]     Muhyiddin Khazin, Ilmu Falak dalam Teori dan Praktek, Jogjakarta: Buana Pustaka, 2004.
[7]     Buletin Majelis Permusyawaratan Ulama Kabupaten Aceh Utara, Nida’ Al-Islam, Triwulan III 2009, (Lhokseumawe: Badan Penerbitan dan Penyiaran MPU Aceh Utara). Hal. 38